Minggu, 06 Desember 2009

Dak Beton


Musim hujan telah tiba. Masalah bocor di rumah pun banyak terjadi. Kebocoran biasanya terjadi di daerah sambungan antara genteng dan dinding / ban-banan, genteng dan bubungan, juga mungkin dari sela-sela genteng apabila kemiringan atap telalu landai dan hujan terjadi disertai angin. Pada kesempatan kali ini, akan coba dibahas bocor yang terjadi pada atap dak beton.

Atap dak beton apabila tidak didesain dengan baik dapat mengakibatkan kebocoran dan kemungkinan yang lebih parah apabila hal ini dibiarkan terus menerus terjadi adalah tulangan dalam beton dapat berkarat yang akhirnya dapat menyebabkan atap beton gagal / runtuh.

Agar atap dak beton kita dapat bertahan dan terhindar dari permasalahan bocor, kita harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut.


  1. Desain kekuatan beton pada umumnya memperbolehkan terjadinya retak, tetapi dibatasi sampai nilai regangan tertentu, 0.003. Akan tetapi untuk mendapatkan durabilitas yang baik pada atap dak, atau terlebih pada tandon air / kolam renang yang setiap saat terisi air maka perlu dilakukan pembatasan tegangan tarik tulangan. Untuk lebih simple-nya pada struktur ini akan membutuhkan ketebalan beton yang lebih dari pelat beton standar untuk lantai, dan juga jumlah tulangan yang lebih banyak. Perlu diperhatikan juga letak tulangan, agar selimut beton / concrete cover sedikit lebih besar daripada umumnya, katakan 4 cm, agar lebih aman terhadap korosi. Sebagai tambahan, mutu beton yang lebih besar dapat mengurangi (hanya mengurangi, tidak menjamin) resiko kebocoran dan korosi.


  2. Plat beton dengan lendutan / defleksi yang terlalu berlebihan dapat mengakibatkan genangan di tengah bentah. Genangan ini apabila menetap terus-menerus mempunyai kemungkinan untuk merembes ke dalam beton sampai ke lapisan bawah pelat beton, setelah terkumpul mungkin bisa terjadi tetesan air. Pada bentangan dan beban standar, katakan 3m bentang balok, beban hidup 200 kg/m2 biasanya lendutan / defleksi tidak terlalu menjadi permasalahan. Apabila lebih dari itu, plat beton harus didesain strukturnya secara teliti.


  3. Kemiringan / slope pada atap dak yang tereskpos oleh cuaca sangat diperlukan untuk menjamin agar air segera cepat mengalir dan tidak terus-menerus menggenang. Nilai kemiringan minimum 0.5%, lebih baik lagi bila dapat mencapai 1%. Artinya untuk bentang 3m, maka kemiringannya adalah 1% x 3m = 0.03m (3cm). Untuk mencapai kemiringan dapat dibuat dari ketebalan yang berbeda / bergradasi pada plasteran di atas beton. Lebih bagus lagi apabila kemiringan dibuat langsung pada plat betonnya, sehingga ketebalan plasteran di atasnya sama.


  4. Tebal plasteran di atas beton jangan terlalu tipis karena akan mudah retak dan pecah, dan apabila terlalu tebal harus menggunakan wiremesh (besi tulangan yang dilas secara fabrikasi membentuk kotak2 seperti pemasangan tulangan) atau paling tidak kawat ayam, agar mempunyai kekuatan tarik yang cukup sehingga memperkecil kemungkinan retak. Tebal plesteran standar sekitar 3-4cm


  5. Kemiringan / slope dapat direncanakan 1 arah atau 2 arah dari level tertinggi sampai level terendah. Pada posisi terendah, apabila air tidak boleh jatuh bebas harus diberikan tanggulan yang menyatu / monolit pada saat pembesian dan pengecoran plat dak. Apabila terdapat parapet / dinding pendek, maka pastikan bagian bawah dinding setinggi kira-kira 15cm dari level dak juga dicor monolit dengan plat beton.


  6. Hal yang tidak kalah penting adalah memberikan drain dan down pipe / saluran pembuangan apabila air tidak dapat jatuh bebas. Saluran ini berfungsi vital untuk membuang air yang terkumpul di level paling bawah agar tidak terjadi genangan pada pelat lantai. Lubang drain harus dipasang dengan baik agar tidak menjadi sumber kebocoran, pemberian flange / sayap pada pipa untuk menahan agar tidak bocor terkadang diaplikasikan. Lubang drain ini pun harus tetap dijaga pada saat operasional jangan sampai tersumbat oleh kotoran, misalnya daun-daunan, plastik. Penting untuk diketahui apabila air tidak dapat dialirkan maka air tersebut akan menjadi beban untuk atap yang apabila tidak masuk dalam kriteria desain akan dapat memungkinkan terjadinya kegagalan struktur / runtuh.


  7. Material waterproofing saat ini telah lazim banyak digunakan untuk memberikan proteksi terhadap kebocoran. Macam-macam water proofing misalnya : Integrated water proofing, yaitu aplikasinya dicampurkan pada saat pengadukan beton mentah yang kerjanya mengisi pori-pori yang terjadi dalam beton. Yang kedua adalah tipe membran yaitu menutup permukaan beton dengan elemen membran, atau asphalt yang dibakar. Juga ada tipe coating yaitu melapisi permukaan beton dengan bahan / cairan waterproofing. Material water proofing tipe membran dan coating yang bagus harus tahan terhadap cuaca panas dan dingin dan mempunyai kemampuan untuk dapat meregang secara elastis. Tapi perlu diingat, material waterproofing yang bagus pun tidak akan dapat mencegah kebocoran apabila struktur beton tidak bekerja secara optimal seperti telah diuraikan pada item no, 1 dan 2.


  8. Apabila terjadi retak-retak pada pelat eksisting (plat dak lama), maka apabila dirasa diperlukan perbaikan struktur (misal dari lendutan yang terlalu berlebihan) maka struktur plat harus diperkuat. Untuk retak-retak beton yang terjadi dapat di"sembuh"kan dengan memberikan grout injection, yaitu pengaplikasian cairan semen mutu tinggi dengan dibantu pompa pada bagian yang retak.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar